Sabtu, 13 Desember 2014

Cerpen Karena Engkau Membutuhkanku karya: "Farah"



Dan ini adalah Juara 3:
 
Angin sepoi-sepoi menghampiriku. Rasanya ingin sekali aku memakai selimut dan menuju alam mimpi. Namun aku singkirkan keinginan itu. Aku harus belajar. Karena aku sedang menjalani ulangan harian besok. Ya, dipukul 04.00 ini aku sedang belajar. Belajar untuk persiapan ulangan harian dan juga ulangan akhir semester atau UASyang diadakan seminggu lagi.
“Hoamm..” Rasa kantuk yang sudah dari tadi menghampiriku kini bertambah dasyat. Aku melirik jam. Pukul 05.00. Karena aku sudah selesai belajar aku ingin sekali tidur. Tapi sebelumnya aku solat subuh dulu. Setelah solat subuh, pergilah aku ke dunia mimpi. Ah.. senangnya.
Kring!! Kring!!
Suara itu benar-benar menggangguku. Ya, itu adalah suara alarm. Suara alarm dari Hp-ku yang satu lagi. Memang, hp-ku ada dua. Namun biasanya hanya aku gunakan untuk membangunkanku jika sedang UAS ataupun ulangan-ulangan yang lain.
Klik! Kumatikan suara dari hpku itu. Sekarang jam 05.30. Cepatnya waktu berlalu. Perasaanku, aku baru tidur selama lima menit.
Aku segera bersiap untuk pergi kesekolah. Jangan ganggu aku ya!
“Assalamu’alaikum!” Seruku ketika memasuki kelasku, kelas VA. Yang berada dilantai dua gedung sekolah indah jaya.
“Waalaikum salam,” Jawab teman-temanku. Aku tersenyum. Semoga hari ini bisa lebih baik dari hari kemarin.
Kulirik sahabatku, Aisyah Aughea Putri. Atau Autri. Ia sedang mengorol dengan temanku, Nesha. Aku kurang suka sama Nesha. Terus terang saja, soalnya Nesha itu sering memaksakan kehendaknya kepada orang lain.
“Hai Autri! Hai Nesha!” Aku menyapa keduanya. Aku tetap menyapa Nesha walau aku kurang suka padanya.
“Eh, hai De!” Jawab Autri. Oh ya, namaku Adelina Veliana atau Delina.
“Kebangkuku yuk!” Ajakku kepada Autri
“Nggak bisa, aku sedang membahas komik sama Nesha,” Tolak Autri mantap.
“Iya, kamu pergi deh, huss.. Hus..” Usir Nesha sambil tersenyum sinis. Ihh! Menyebalkan sekali anak ini!
“Autri…”
“Maaf ya De,” kata Autri. Aku mengangguk dan segera meninggalkan mereka.
“Ada apa dengan Autri? Apakah dia sudah melupakanku? Apakah sia tidak ingin bermain dan bersahabat denganku lagi?” Bertubi-tubi pertanyaan kuucapkan dalam hati. Sedih rasanya diperlalukan sahabat seperti itu.
Kringg! Kringg!
Bel masuk berbunyi. Aku segera menyiapkan buku pelajaran pertama. Kulirik Autri, dia masih sibuk berbicara dengan Nesha. Hatiku sangat sedih.
“Autri….”
***
Esoknya, aku kembali menyapa Authi dan Nesha yang ternyata masih sering mengobrol.
“Hai All!” Aku menyapa mereka
“Hai De,” Jawab Autri. Setelah itu mereka kembali mengobrol. Membiarkan aku yang masih berdiri dihadapan mereka.
“Eh De bisa pergi dulu nggak?” Tanya Autri dengan nada mengusir. Dia ternyata sudah bisa mengusir sahabatnya sendiri! Sahabat seperti apa itu?
“Oke, maaf,” kataku. Aku pergi kebangkuku dengan perasaan sedih. Rasa sakit hati ini sungguh tidak terhingga!
“Autri… Mengapa kamu berubah?”
***
Hal itu terjadi berulang-ulang. Aku yang sedih tidak bisa lagi membendung air mataku. Siapa yang tidak sedih melihat diri kita diusir sahabat? Dikhianati sahabat?
“Bu!” Aku memanggil Guru IPA-ku, beliau menoleh kearahku.
“Ada apa, Adelina?” Tanya beliau.
“Saya ingin permisi ke toilet,” Kataku
“Baiklah, lima menit ya, Adelina,” Kata beliau. Aku megangguk dan segera berlari menuju toilet.
“ Ya allah, apa yang terjadi denganku? Apa yang terjadi dengan persahabatanku? Mengapa cobaan ini menghampiriku?!” Aku berteriak sambil menangis di toilet. Aku yakin tidak ada yang mendengar. Disebelah toilet terdapat Lab IPA, komputer, dan bahasa yang sudah kucek kekosongan ruangan itu.
Setelah 4 manit aku menangis, Aku meninggalkan toilet. Sebelumnya, aku sudah menghapus air mataku.
“Semoga sifat Autri sepat berubah,” Doaku pelan sambil terus berjalan menuju kelas.
***
Esoknya, Autri terserang Cacar air. Nesha yag belum terkena cacar air tidak ingin dekat dengan Autri. Begitupun temen-temanku yang lain. Aku baru tahu kalau hanya aku siswa perempuan dikelasku yang sudah terkena cacar air!
“Autri..” Panggilku.
“Deliana!” Serunya. Ia menghampiriku dan menangis. Aku memeluknya yang sedang menangis.
“Maafkan aku. Aku benar-benar jahat karena telah mengacuhkanmu,” Kata Autri.
“Aku maafkan kamu, Autri.” Tanyaku sambil tersenyum
“Terima kasih. Apakah kamu masih mau bersahabat denganku?” Tanyanya pelan..
“Tentu saja, Autri!” Jawabku mantap.
“Terima kasih Deliana. Mengapa engkau mesih mau menerimaku menjadi sahabatmu padahal engkau telah kusakiti?” Tanyanya
“Karena Engkau membutuhkanku,”

Profil Penulis:

Namleng: Farah Aulia Najwa
Nampang: Farah Or Rara
Kelas: 6 SD
TTL:15 april 2003
Umur:11 thn
 

Cerpen Sorang Raya karya: "Sadsa"



Juara 2 Cerpen, baca ya:

Raya adalah anak seorang penjual makanan keliling. Setiap pagi ia membantu ibunya membuat makanan yang akan dijual, kemudian setelah pulang sekolah langsung membantu ibunya menjual makanan itu. Namun, Raya tidak pernah mengeluh dan merasa malu.
Suatu hari....
"Ya ampun. Sudah siang begini dagangan ibu belum ada satu pun yang terjual. Bagaimana ini, Nak?"keluh ibunya Raya. "Tenang bu, mungkin belum rezeki kita," kata Raya menenangkan ibunya.
"Kasihan kamu, Nak. Padahal minggu depan kamu akan menghadapi UAS, dan ibu belum membayar iuran bulanan."kata ibu lagi.
"Mmm....aku masih ada tabungan, bu. Insyaallah cukup untuk membayar iuran bulanan."kata Raya.
"Terimakasih, Nak. Sebelumnya ibu minta maaf ya....kalau ibu sudah ada uang pasti ibu akan gantikan uangmu itu."kata ibunya Raya sedih.
"Kasihan sekali ibuku... Kalau setiap hari dagangannya tidak laku, lama lama ibu akan bangkrut. Uang tabunganku juga aka habis, dan tidak bisa membayar iuran bulanan itu."batin Raya.
Raya memperhatikan ibu yang sedang mengeluarkan dagangannya satu per satu dari baskom berwarna hijau. Aku harus mencari cara agar daganganku bisa laku, aku harus menyelidikinya. Mengapa dagangan ibuku kurang disukai orang-orang, batin Raya.
Sejak itu, setiap Raya membantu ibunya berjualan, Raya selalu membawa pulpen dan buku kecilnya. Seperti seorang wartawan, Raya menanyai para pembeli tentang makanan buatan ibunya. Harganya mahal atau murah? Apakah enak atau tidak? Apakah mereka bosan terhadap makanan ibunya? Pokoknya Raya menyelidiki segala kemungkinan yang dapat dia pikirkan.
"Saya menginginkan makanan yang sehat dan enak, Dik,"kata seorang pembeli.
"Pastel ibumu ini enak. Hanya bentuknya kurang bagus dan menarik. Coba lihat koran ini, mungkin kamu bisa meniru bentuknya. Pasti banyak orang yang tertarik dan membeli pastelmu karena dibuat dengan bentuk seperti ini. Bawa saja korannya supaya ibumu bisa belajar membuat bentuk pastel yang baru," kata pembeli yang lain.
Semua usulan itu dicatat oleh Raya dengan rapi. Kini Raya bisa melihat para pembeli ingin jajanan yang sehat dan enak. Akhirnya, berdua dengan ibunya, Raya berencana membuat makanan baru yang belum pernah dijual siapapun. Pastel isi jamur rasa ayam, mie hijau rico-rico dan puding hijau lumut.
"Minggu depan, kelompok PKK akan membuat bazar di balai pertemuan warga. Ada lomba membuat jajanan anak yang sehat. Ajaklah ibumu mengikuti lomba itu. Hadiahnya lumayan, lho. Uang untuk modal usaha dan sebuah blender," kata Bu RT pada suatu sore.
"Lomba makanan sehat? Aha! Pas sekali! Itu akan jadi waktu yang tepat untuk memperkenalkan dagangan bari ibu," batin Raya gembira.
_______
Raya dan ibunya sibuk membuat makanan untuk lomba. Mereka membuat kue agak banyak karena ingin membagikan secara gratis agar orang-orang bisa mencicipi.
Ternyata,banyak orang yang tertarik melihat penampilan masakan ibunya Raya. Mereka terheran-heran karena ternyata bayam juga enak di campur dengan agar-agar. Apalagi Raya telah menambahkan perasan jeruk ke dalam saos vlanya.
"Rasanya segar dan enak kalau dimakan pada saat cuaca panas," puji seorang juri sambil menyendok habis puding lumut itu ke dalam mulutnya.
"Kalau jajanannya begini, anak saya pasti sehat karena makan sayuran setiap hari. Mie ini enak sekali. Apakah bisa menerima pesanan?" tanya seorang ibu cantik yang memakai jilbab ungu.
"Tentu,bisa," jawab Raya senang.
"Kalau begitu, minggu depan saya minta dibuatkan mie hijau dua puluh lima porsi, ya. Juga pastelnya tiga puluh. Saya akan mengadakan syukuran ulang tahun anak saya. Pasti semuanya suka!"
"Iya, bu. Pesanan ibu pasti akan dibuat."kata Raya dengan gembira.
Akhirnya pengumuman pun disampaikan. Raya dan ibunya cukup senang meskipun hanya bisa menduduki peringkat kedua. Tapi, puding bayam terpilih sebagai menu favorit.
°°°°°°°°°°°°°
Sejak saat itu usaha Raya dan ibunya makin maju. Raya pun tak pernah bosan membuat kreasi kue baru. Setelah uang hasil penjualan makanan terkumpul cukup banyak, Raya menggunakan sebagian uang itu untuk membeli pupuk, media tanam dan bermacan macam bibit sayuran. Kini makanan buatan ibunya sudah terdengar sampai ke luar kota. Tak heran ekonomi Raya pun semakin baik dan telah bisa membuka lapangan pekerjaan untuk enam pegawainya.
Dia ingin mengasah kemampuannya membuat bermacam-macam makanan enak dan sehat untuk anak Indonesia.

 Profil Penulis:



Nama Lengkap: Shadrina Nadhilah
Nama Panggilan: Shadsa
TTL: 21 September 2003
Kelas: 6
Umur: 11 tahun
Cerpen: Cerita pendek seorang Raya
 

Cerpen Memories karya: "Charisa"



Inilah karya terbaik "JUARA 1 kita"

 
Dikala sang surya menepi.. langit yang biru berubah warna menjadi merah kekuningan yang menyilaukan mata.. rumput-rumput hijau yang tertiup angin sore seakan-akan bersuka ria menyaksikan peristiwa yang indah ini.. membuatku terpaku dan membisu menyaksikan semua itu.. mengingatkanku pada sebuah kisah lalu..
>FLASHBACK ON<
" Hei, itu milikku!!!! Kembalikan !!!" Teriak Alice sambil merebut kembali keripik jamurnya yang sekarang berada di tangan kakaknya.
" Tidak bisa, ini untukku" ujar kakaknya dengan santai sambil memainkan tangannya.
" Arrgghhh... Kembalikan !!" Ujar Alice dengan marah. Kakaknya, Lucy hanya menjulurkan lidahnya bahagia melihat adiknya cemberut. Sesaat kemudian ia tertawa.
" Kak Lucy, ini bukan saatnya untuk bermain - main hey !!!!" Wajah Alice tambah cemberut melihat kelakuan kakaknya.
" Hah, baiklah ini kukembalikan" ujar Lucy mengembalikan bungkusan keripik jamur itu. Saat Alice lihat isinya hanya tinggal 2 buah saja.
" APAAAA ??!!!!!! Errgghhhhh awas kau" ujar Alice sambil mencubit tangan kakaknya.
>FLASHBACK OFF<
Suatu malam di bulan oktober, hujan turun cukup deras.. seorang gadis kecil yang tengah duduk di depan jendela rumah sakit sambil menunggu mata kakaknya terbuka.. ia sedang memperhatikan tetesan air hujan yang jatuh di luar rumahnya.. ia amat menyukai hujan.. karena menurutnya.. disaat hujan turun bisa memberikan ketenangan dan ketentraman jiwa.. Dan gadis itu adalah aku, Alice. Aku membalikkan badan menghampiri kakakku yang tengah terlelap, terbaring tak berdaya di rumah sakit ini. Kutatap matanya, hmm lebih tepatnya kelopak matanya. Bayangan saat kami bertengkar, saat bermain kejar - kajaran hanya karena masalah yang sepele, saat kami berdua saling berpelukan karena gemuruh hujan dan petir terus menyambar dll. Itu semua terliang jelas dimataku. Aku merindukan saat - saat itu. Saat dimana aku bercanda ria dengan kakakku. Tapi sekarang, hanya kesunyian yang menghampiri diriku. Kakakku mengalami sebuah kecelakaan, kepalanya terbentur cukup keras tapi sampai saat ini dokter tidak memberi tahu apa yang terjadi selanjutnya pada kakakku. Ku ambil kertas HVS yang memang terselip di diaryku dan pulpen. Kutarik kursi yang ada didekat tempat tidur kakakku menuju jendela. Sambil menikmati hujan kugoreskan penaku membentuk sebuah puisi.
Rindu Kakak
Dalam kesendirian aku terdiam
Gigil dingin menyelimuti malam
Semilir angin berbisik syahdu
Membelai wajahku penuh rindu
Di luasnya samudra jiwa
Yang selalu sabar menyapa
Butiran kata penuh makna
Membasahi hati yang dahaga
Kakak, aku rindu padamu
Bukalah matamu
Tersenyumlah dengan gembira
Saat melihatku disisimu
Kakak, tubuhku dipenuhi keringat
Butiran - butiran keringat rindu denganmu
Kakak, tolong usapkan keringatku
Dengan cara bukalah matamu, kumohon.
Kertas HVS itu menjadi sedikit basah akibat air mata ku yang jatuh. Mengingat semua kegiatan yang pernah kulakukan bersama kakakku. Kami hanya tinggal berdua. Orang tua kami sudah tiada sejak aku berumur 8 tahun. Jadi aku sangat kesepian.
Malam semakin larut dan mataku. Tidak bisa terbuka lebih lama aku harus segera tidur. Tidur disamping ranjang kakakku, tak apalah tidur sambil duduk tak akan ada masalah. Lagipula besok hari minggu jadi seandainya aku kecapaian aku bisa kembali ke rumah dan beristirahat.
" Hoaammm" Alice terbangun dari alam mimpinya. Tapi, Aku masih mendapati bahwa kak Lucy belum terbangun. Kulihat kejendela " pagi ini masih terselimut hujan" batinku. Aku kembali mengambil diaryku memastikan bahwa masih ada kertas HVS dalam selipannya dan ternyata benar, masih ada kertas HVS simpananku. Aku menulis beralas papan aku tidak ingin menulis dijendela aku ingin menulis di pangkuanku saja.
Kehangatan
pagi yang terselimut hujan ,,,,
ketika kita mempunyai kehangatan kedamaian dan ketenangan dalam hati ,,,
maka masalah duniawi bukan lah sebuah sandungan,,,,
karna kita mempunyai kekuatan untuk berjuang dan memperjuangkan ,,,,
semua akan indah jika hati selalu damai dan tenang ,,,
semoga kehangatan - kehangatan itu selalu kita dapatkan,,,,
Aku membaca ulang puisiku dengan lirih. " Pasti sayang. Pasti kehangatan itu akan selalu kita dapatkan". Aku mendengar suara. Aku menoleh ke arah kakakku, oh ini sebuah keajaiban. Kakakku membuka matanya seperti apa yang aku harapkan, tersenyum dan berpelukan. Kata dokter keadaan kakak juga sudah membaik dan kakak diizinkan untuk pulang.
" Weyyy... Horeee... Yeeeeeeeee" aku bersorak riang sambil berjoget saking senangnya. Kakakku dan dokter juga sampai tertawa terbahak - bahak melihat kelakuanku.
Saat sudah dekat rumah, ketika kakakku membeli minuman aku menyelinap kedalam rumah mempersiapkan pita dari kertas atau semacamnya, terompet dll.
Kak Lucy P.O.V
" Hah ? Alice kamu kemana ?" Seru kak Lucy mencarinya. Karena ia kesal maka ia tidak melanjutkan pencariannya dan segera pulang.
Sandal Alice sudah disembunyikan terlebih dahulu supaya kak Lucy tidak curiga.
Kriekk...
" Tuh, kan, dasar adik ceroboh. Pintu sampai tidak dikunci. Coba kalau ada pencuri repot juga kan ?" Ujar kak Lucy.
Pintu terbuka sedikit dan kak Lucy memperlihatkan kepalanya untuk memastikan tidak ada hal aneh. Kak Lucy mulai melangkahkan kakinya ke dalam rumah dan ...
" TREEETTTT !!!!!!!" Suara terompet ditiup oleh Alice.
" Uwaaa...." Kak Lucy yang kaget sampai terjungkal.
Alice menebarkan pita - pita itu ke arah kak Lucy.
" Oooo... Horeee,, yeee. Kak Lucy pulang. Wihiy !" sorak Alice gembira. Tak lama kemudian Lagu I Feel Good disetel oleh Alice.
" I feel good tererererereret uhuyy" Alice bergoyang ria. Kak Lucy hanya manyun, cemberut karena hal ini.
Beberapa hari kemudian, wajah kak Lucy tiba - tiba pucat sekali. Aku khawatir dengannya. Tapi aku mencoba untuk mengabaikannya.
" Alice !" Panggil kakakku dari kamar sedangkan aku ada diruang keluarga. Aku bergegas ke kamar.
" Ya ? Ada apa ?" Ucapku heran
" Ajarkan kakak bikin puisi" ucap kakakku santai. Aku tercengang, mataku melotot tidak percaya, selama ini kak Lucy tidak pernah meminta aku untuk mengajarkannya sesuatu.
" Hmm.. Baiklah langkah awal begini.. Begini.. Begini lalu begini..." Jelas Alice menerangkan semua yang ia tahu tentang puisi.
" Oh, baiklah terima kasih" ucap kak Lucy seenaknya
" Hhhh... Apa apaan itu ?" Ujarku lirih
" Sama - sama" kataku.
---
" Alice, tidur sudah malam besok kamu harus sekolah ! " perintah kak Lucy
" Oke"
---
" Hoaaam" Alice terbangun pagi yang cerah dan sinar matahari pagi yang masuk ke kamarnya melalui ventilasi menambah keindahan pagi ini. Ku lirik kak Lucy. " Kakak belum bangun ? Tidak biasanya" ucapku heran.
Aku segera bersiap - siap menuju ke sekolah. Aku hanya membikin susu dan sarapan roti bakar saja, supaya lebih cepat. Setelah semuanya selesai Alice kembali ke kamar, mencium dahi kak Lucy " kakak, aku berangkat dulu. Jaga diri kakak baik - baik" pamitku di telinganya. Aku segera berangkat sekolah dengan rasa tak nyaman karena .. Kejadian beberapa menit lalu.
***
Kak Lucy P.O.V
" Ah, sudah jam 07.00 WIB kenapa aku merasa seperti ini ya ? Apa mungkin ? Apa ini adalah saat yang tepat ? Mungkin." Batin kak Lucy.
Kak Lucy bangkit ia memulai aktifitasnya. Untuk sementara ia tidak sekolah dulu. Kak Lucy berjalan menuju ruang makan. Disana ada sebuah piring dengan roti bakar lengkap dengan minumannya dan ada sebuah kertas kecil.
Selamat menikmati kak Lucy. Nikmatilah roti bakar ala chef Alice hohoho.
Kak Lucy yang membaca itu tersenyum lebar, dan segera menyantap roti bakarnya. Setelah itu kak Lucy mulai menyapu. Saat menyapu di teras rasa pusing menghampirinya seketika lututnya lemah dan semuanya gelap.
***
" Assalamualakum. Kak Lucy !" Seru Alice.
" ... " Tak ada jawaban.
" Kak Lucy ! Yuhuu !" serunya sekali lagi. Lalu ada temannya kak Lucy yaitu kak Zhalia.
" Kak Zhalia" panggil Alice
" Halo Alice, senang bertemu denganmu. Kamu lagu mencari kakakmu ya ?" Tebak kak Zhalia.
" Iya, kak, kak Lucy kemana ya ?" Tanya Alice.
" Tadi Lucy pingsan lalu kakak dan beberapa warga disekitar sini membawanya ke rumah sakit" jelas kak Zhalia.
" APA ?!" Ucapku tidak percaya, padahal semalam ia baik - baik saja. Bahkan ia sempat menyelimutiku dengan selimut tebal dan mengucapkan selamat malam.
" Mau ku antar ke rumah sakit ?" Tawar kak Zhalia.
" Hmm... Boleh"
----
Tap tap tap..
Suara langkah kaki Alice menggema di koridor rumah sakit. Perasaannya tak menentu, ia takut terjadi apa - apa dengan kakaknya.
Kembali kutemui kakak ku, kembali kulihat dirinya terbaring tak berdaya. Wajahnya pucat sekali. Tubuhnya berkeringat dingin.
" Kakak, apa yang terjadi denganmu ?" Tanya Alice. Tentu tak ada jawaban. Alice mulai menangis. Butiran - butiran bening itu jatuh dari kelopak matanya mengalir kepipinya dan akhirnya jatuh ke tangannya. Alice duduk, dan menggenggam tangan kakaknya. Tangan keduanya lemah. Alice mencoba untuk tidak menangis " aku harus kuat !" Tekad Alice.
Malam telah tiba tapi Alice masih menangis, salah satu air matanya menyentuh kelopak mata kak Lucy dan keajaiban terjadi lagi. Mata kak Lucy terbuka. Tangis sedih Alice berubah menjadi tangis bahagia. Alice memeluk kakaknya.
Pukul 11.00 WIB
" Kakak tidak tidur ?" Tanya Alice pelan.
" Belum, kakak belum mengantuk. Kakak masih ingin mendengarkan radio" jelasnya.
" Baiklah"
" Kamu sendiri kenapa tidak tidur ?" Tanya kak Lucy balik.
" Aku tidak bisa tidur" ucap Alice singkat.
" Hoaam"
" Itu kakak menguap" kata Alice.
" Memangnya kalau kakak menguap kenapa ?" Tanya kak Lucy.
" Itu tandanya kakak sudah mengantuk. Tidurlah aku akan senang jika harus menjaga kakak" ujar Alice.
" Baiklah kakak tidur."
Alice memandangi kakaknya sedih.
"Kami kembali mempublikasikan sebuah surat. Surat ini dikirim oleh Lucyna Wirantika..."
" Apa ? Itukan nama kakak" ucapku tertegun.
" Dear Alice...
Alice kakak sayang padamu. Menurut kakak kamu adalah adik terbaik sepanjang sejarah. Lembaran hidup kakak rasanya sudah lebih dari penuh. Lembaran itu terisi dengan aktivitas kita. Sering kali kita bertengkar karena hal sepele. Kakak masih sangat ingat. Ekspresimu yang kesal karena tidak bisa menghafal kunci gitar, cemberut, marah, bahagia, sedih. Kakak akan ingat semua itu. Bagi kakak Alice adalah sebuah hadiah terindah yang diberikan Tuhan kepada kakak. Tapi, kakak tidak tahu apa Alice menganggap kakak sebagai hadiah terindah yang diberikan oleh Tuhan juga ?"
Alice menangis, ia sedih kenapa ia tidak tahu semua ini. Alice bangkit dan kembali memeluk kakaknya. Sebuah amplop berwarna biru muda jatuh dari saku baju kak Lucy. Alice mengambilnya dan melihat apa isi dalamnya. Ternyata ada sebuah puisi.
Memory luka
Secarik kisah dalam hidupku
Hanya menjadi ingatan lalu
Tentang cinta dan kelukaan
Tentang kasih sayang dan kebersamaan
Kenangan itu kini menjadi
Sebuah bayang bayang abadi
Yang bergelayut dalam pikirku
Kala terbias khayalan semu
Sirna keindahnya
Gugur bersama luka
Dalam keringnya rindu yang mati
Terhempas waktu menghujam hati
Hancurkan indah asa di mimpi
Alice tertegun, kalimat dipuisi ini sangatlah indah. Alice tersenyum lebar ke arah kakaknya. Tak lama kemudian Alice terlelap.
" Alice ! Bangun" ucap seorang perempuan wajahnya bercahaya. Alice terbangun.
" Siapa kau ?" Tanya Alice
" Kamu tidak perlu tahu siapa aku"
"..."
" Alice, aku sebentar lagi akan terlelap dan jika kau bangunkan aku tapi aku tidak bangun jangan menangis ya ?" Ucap perempuan itu dan segera menghilang.
Alice membuka matanya, pagi telah datang. Alice baru menyadari perempuan itu seperti kakaknya. Alice mencoba untuk membangunkannya. Tetapi, kakaknya tidak bangun juga mungkin tidak akan pernah. Alice tahu kakaknya sudah meninggal.
" Kakak apa kakak tidak bangun ? Apa kakak tidak ingin memasakkan sarapan untukku ? Baiklah jika kakak tidak mau. Apa sebaiknya aku mengambil air dan menyiram bunga mawar itu" tunjuk Alice kepada rangkaian bunga mawar dekat jendela. Alice menoleh ke arah kakaknya, ia menghela napas.
KRIEKK...
Pintu kamar kakaknya terbuka ada seorang dokter dan beberapa perawat. Alis merentangkan kedua tangannya menghalangi dokter itu.
" Alice, singkirkan tanganmu. Saya hanya ingin memeriksa keadaan kakakmu." Ucap dokter itu memohon.
Alice segera memeluk kak Lucy dan berkata.
" Tidak, tidak boleh dia sedang istirahat dan kalian tidak boleh mengganggunya" larang Alice. Kedua perawat yang ada di sebelah dokter itu memegang tangan Alice untuk beberapa saat sampai dokter selesai memeriksa kak Lucy.
" Tidak, jangan lakukan itu !! Kakakku sedang beristirahat !!!! Nanti dia terbangun jangan !!!" Teriak Alice histeris.
Sesaat kemudian kedua perawat itu melepaskan Alice mengambil kain putih dan menutupkannya pada tubuh kak Lucy. Kini giliran dokter yang memegang tangan Alice.
" Jangan !!! Jangan ditutup. Aku masih ingin melihat wajahnya jangan !!! Dia belum menginggal dia hanya istirahat !!!! Kumohon jangan. Nanti tidak ada lagi yang menemaniku dirumah ! Tidak ada lagi yang memelukku saat aku ketakutan ! Tidak ada lagi yang memasakkan sarapan favorite ku dipagi hari jangaaannn !!!!!" Teriak Alice lebih histeris.
Beberapa jam kemudian jasad kak Lucy telah dikuburkan dan Alice kini harus siap menghadapi semuanya, sendirian. 

Profil Penulis:
 

Nama Lengkap : Charisa Dwi Santika
Nama Panggilan : Charisa
TTL : Tangerang, 25 Oktober 2003
Kelas : VI ( 6 )
Umur : 11 thn