Sabtu, 13 Desember 2014

Cerpen Karena Engkau Membutuhkanku karya: "Farah"



Dan ini adalah Juara 3:
 
Angin sepoi-sepoi menghampiriku. Rasanya ingin sekali aku memakai selimut dan menuju alam mimpi. Namun aku singkirkan keinginan itu. Aku harus belajar. Karena aku sedang menjalani ulangan harian besok. Ya, dipukul 04.00 ini aku sedang belajar. Belajar untuk persiapan ulangan harian dan juga ulangan akhir semester atau UASyang diadakan seminggu lagi.
“Hoamm..” Rasa kantuk yang sudah dari tadi menghampiriku kini bertambah dasyat. Aku melirik jam. Pukul 05.00. Karena aku sudah selesai belajar aku ingin sekali tidur. Tapi sebelumnya aku solat subuh dulu. Setelah solat subuh, pergilah aku ke dunia mimpi. Ah.. senangnya.
Kring!! Kring!!
Suara itu benar-benar menggangguku. Ya, itu adalah suara alarm. Suara alarm dari Hp-ku yang satu lagi. Memang, hp-ku ada dua. Namun biasanya hanya aku gunakan untuk membangunkanku jika sedang UAS ataupun ulangan-ulangan yang lain.
Klik! Kumatikan suara dari hpku itu. Sekarang jam 05.30. Cepatnya waktu berlalu. Perasaanku, aku baru tidur selama lima menit.
Aku segera bersiap untuk pergi kesekolah. Jangan ganggu aku ya!
“Assalamu’alaikum!” Seruku ketika memasuki kelasku, kelas VA. Yang berada dilantai dua gedung sekolah indah jaya.
“Waalaikum salam,” Jawab teman-temanku. Aku tersenyum. Semoga hari ini bisa lebih baik dari hari kemarin.
Kulirik sahabatku, Aisyah Aughea Putri. Atau Autri. Ia sedang mengorol dengan temanku, Nesha. Aku kurang suka sama Nesha. Terus terang saja, soalnya Nesha itu sering memaksakan kehendaknya kepada orang lain.
“Hai Autri! Hai Nesha!” Aku menyapa keduanya. Aku tetap menyapa Nesha walau aku kurang suka padanya.
“Eh, hai De!” Jawab Autri. Oh ya, namaku Adelina Veliana atau Delina.
“Kebangkuku yuk!” Ajakku kepada Autri
“Nggak bisa, aku sedang membahas komik sama Nesha,” Tolak Autri mantap.
“Iya, kamu pergi deh, huss.. Hus..” Usir Nesha sambil tersenyum sinis. Ihh! Menyebalkan sekali anak ini!
“Autri…”
“Maaf ya De,” kata Autri. Aku mengangguk dan segera meninggalkan mereka.
“Ada apa dengan Autri? Apakah dia sudah melupakanku? Apakah sia tidak ingin bermain dan bersahabat denganku lagi?” Bertubi-tubi pertanyaan kuucapkan dalam hati. Sedih rasanya diperlalukan sahabat seperti itu.
Kringg! Kringg!
Bel masuk berbunyi. Aku segera menyiapkan buku pelajaran pertama. Kulirik Autri, dia masih sibuk berbicara dengan Nesha. Hatiku sangat sedih.
“Autri….”
***
Esoknya, aku kembali menyapa Authi dan Nesha yang ternyata masih sering mengobrol.
“Hai All!” Aku menyapa mereka
“Hai De,” Jawab Autri. Setelah itu mereka kembali mengobrol. Membiarkan aku yang masih berdiri dihadapan mereka.
“Eh De bisa pergi dulu nggak?” Tanya Autri dengan nada mengusir. Dia ternyata sudah bisa mengusir sahabatnya sendiri! Sahabat seperti apa itu?
“Oke, maaf,” kataku. Aku pergi kebangkuku dengan perasaan sedih. Rasa sakit hati ini sungguh tidak terhingga!
“Autri… Mengapa kamu berubah?”
***
Hal itu terjadi berulang-ulang. Aku yang sedih tidak bisa lagi membendung air mataku. Siapa yang tidak sedih melihat diri kita diusir sahabat? Dikhianati sahabat?
“Bu!” Aku memanggil Guru IPA-ku, beliau menoleh kearahku.
“Ada apa, Adelina?” Tanya beliau.
“Saya ingin permisi ke toilet,” Kataku
“Baiklah, lima menit ya, Adelina,” Kata beliau. Aku megangguk dan segera berlari menuju toilet.
“ Ya allah, apa yang terjadi denganku? Apa yang terjadi dengan persahabatanku? Mengapa cobaan ini menghampiriku?!” Aku berteriak sambil menangis di toilet. Aku yakin tidak ada yang mendengar. Disebelah toilet terdapat Lab IPA, komputer, dan bahasa yang sudah kucek kekosongan ruangan itu.
Setelah 4 manit aku menangis, Aku meninggalkan toilet. Sebelumnya, aku sudah menghapus air mataku.
“Semoga sifat Autri sepat berubah,” Doaku pelan sambil terus berjalan menuju kelas.
***
Esoknya, Autri terserang Cacar air. Nesha yag belum terkena cacar air tidak ingin dekat dengan Autri. Begitupun temen-temanku yang lain. Aku baru tahu kalau hanya aku siswa perempuan dikelasku yang sudah terkena cacar air!
“Autri..” Panggilku.
“Deliana!” Serunya. Ia menghampiriku dan menangis. Aku memeluknya yang sedang menangis.
“Maafkan aku. Aku benar-benar jahat karena telah mengacuhkanmu,” Kata Autri.
“Aku maafkan kamu, Autri.” Tanyaku sambil tersenyum
“Terima kasih. Apakah kamu masih mau bersahabat denganku?” Tanyanya pelan..
“Tentu saja, Autri!” Jawabku mantap.
“Terima kasih Deliana. Mengapa engkau mesih mau menerimaku menjadi sahabatmu padahal engkau telah kusakiti?” Tanyanya
“Karena Engkau membutuhkanku,”

Profil Penulis:

Namleng: Farah Aulia Najwa
Nampang: Farah Or Rara
Kelas: 6 SD
TTL:15 april 2003
Umur:11 thn
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar