Label
- Aneka Resep (3)
- Cerpen karya Penulis Cilik (5)
- Info Pengiriman Naskah (5)
- Karyaku (3)
- Karyaku. (6)
- Lain-lain. (2)
- Tips Menulis (9)
Sabtu, 13 Desember 2014
Mimpiku Adalah Mimpimu karya: Rahmi
Cerpen Pilihan 1"
Hari ini hujan turun dengan sangat deras, membasahi bunga-bunga yang ada di depan halaman. Mereka semua terlihat sangat bahagia, tak sepertiku sekarang. Perasaanku saat ini sangatlah buruk, karena lelaki misterius yang ada di dalam mimpi kemarin.
Angin semilir berhembus sepoi-sepoi, membuat topi rajutan buatanku serasa ingin terbang. Aku mencegah topi itu terbang dengan cara menggenggamnya erat, lalu menutup separuh jendela agar tak ada lagi angin yang masuk.
"Dingin sekali," ucapku sembari meraih jaket kulit pemberian sepupuku, Reni yang ada di atas meja. Aku pun duduk termenung menyaksikan hujan deras ini dengan berbekal topi rajutan dan jaket.
Ketika ingin membuat susu hangat, hujan telah reda, namun meninggalkan embun-embun yang menempel di jendela kamar. Segera kuusap embun itu agar bisa melihat keadaan di luar dengan jelas.
Hampir seluruh embun kuusap, namun siapa itu? Siapa laki-laki yang ada di depan halaman sekarang? Hati ini berkata bahwa ia adalah lelaki yang ada di mimpiku kemarin. Memang, wajahnya sangat mirip. Namun, aku tak percaya kalau mimpi kemarin bisa menjadi kenyataan.
Kubuka jendela kamar sepenuhnya, lalu menyunggingkan senyum manis padanya. Ia berbalik senyum kepadaku. Senyum yang sangat manis. Jarang aku menemukan lelaki yang memiliki senyuman semanis itu. Diri ini ingin menyapanya. Namun apa daya, aku di lahirkan sebagai perempuan pemalu.
"H-hai ..." Hanya kata itu yang terlontarkan dari bibir tipis ini. Tapi, ketika menyapanya, ia sudah hilang entah kemana. Kemana dia? Apakah tadi itu hanyalah khayalanku?
Aku benar-benar tak percaya. Langsung saja aku meminum susu hangat itu dengan cepat, lalu membaca novel remaja favoritku.
Di halaman seratus dua dalam novel itu, terdapat kalimat yang menggetarkan hatiku.
"Optimis dan berkhayal itu beda tipis, Lya ..."
Lya? Namanya sama seperti namaku.
"Ya Tuhan, jika Engkau ingin membantuku, pertemukan aku dengan lelaki itu!"
Aku berdo'a dalam hati, semoga Tuhan mendengarkan do'a ini, lalu melanjutkan bacaan ke halaman seratus tiga sampai halaman terakhir.
Tanpa sadar, jam dinding telah menunjukkan pukul 4 sore. Novel itu kututup dengan perlahan, lalu beranjak untuk mandi. Dan tentu saja, sore ini aku akan pergi les bersama teman-teman.
Ketika sampai di tempat les, tak ada satu pun orang yang datang. Walaupun sudah di periksa, aku hanya bertemu dengan nenek pemilik rumah yang letaknya di sebelah tempat lesku.
"Hai, Nek. Lihat orang-orang yang berkumpul di sini?" tanyaku pada perempuan lanjut usia itu. Nenek itu hanya menatapku, tak menjawab. Ia hanya menggelengkan kepala.
"Terima kasih, Nek." Aku pun meninggalkan nenek itu, lalu bingkas pergi.
Kemana teman-teman? Apakah aku datang terlalu lambat? Ataukah terlalu cepat? Aku terus berlari sekuat tenaga agar bisa cepat sampai di rumah, namun kedua kaki ini terhenti dengan sendirinya karena lelaki yang muncul di depan jendela tadi ada di hadapanku sekarang.
Mata birunya yang bening itu seakan-akan menunjukkan bahwa ia ingin berbicara. Aku menatapnya, dia menatapku.
"Kamu ..." Lagi-lagi, aku tak bisa berbicara 'banyak' padanya. Hanya sepatah dua patah kata.
Lelaki itu mendekatiku dengan perlahan.
Setelah ia telah berada di dekatku, tangan kanan yang kurus ini sudah 'gatal' untuk menyentuh pipinya yang putih itu.
"Hah?" Aku terkesiap. Lelaki itu menghilang dengan cepat.
"Dik, kenapa berdiri di situ?" tanya perempuan berkacamata yang kebetulan lewat di depanku.
"Ta-tadi, aku melihat lelaki sedang berada di dekatku ..." jawabku gugup.
"Dik, dari tadi saya lihat kamu berjalan sendirian lho." Perempuan itu langsung pergi dengan sepatu hak tingginya.
Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau selalu mengganggu pikiranku, juga mimpiku?
Beberapa puluh menit kemudian, aku pun sampai di rumah. Sepi, begitulah suasana dalam rumah minimalis ini.
Ayah dan ibu bercerai dan memutuskan untuk membeli rumah dan hidup sendiri, tapi aku bertekad untuk tetap tinggal di rumah ini, meskipun sendirian.
Kutaruh topi rajutan dan jaket ke dalam kamar, lalu langsung merebahkan tubuh di atas kasur yang sudah tak empuk ini lagi. Kunyalakan handphone, berharap ada salah satu teman les yang menelepon. Dan ternyata benar! Ziysika, salah satu teman lesku mengirimi sms.
"Lya, hari ini kita tidak jadi latihan Dance karena guru kesenian sedang mudik."
Beberapa jam yang lalu? Pantas saja tak ada satu pun yang datang! gerutuku dengan emosi yang meluap-luap.
Di atas meja terdapat berbagai macam buku. Namun, aku tertarik untuk membaca membaca novel remaja yang kubaca tadi sian
Kuraih buku yang tebalnya dua ratus itu dan membacanya lembar demi lembar.
Ketika selesai membaca sebagian, kututup buku itu dan langsung membuka jendela kamar sepenuhnya. Masih terbayang di pikiranku lelaki misterius tadi. Bagaimana tidak? Sudah dua kali aku bertemu dengannya! Tapi, ketika ingin mencoba bicara, ia malah menghilang.
Sisa-sisa embun dari hujan tadi masih menempel di jendela ini, kuusap seluruhnya dengan perlahan.
"Hari-hari yang membosankan!"
Aku menghembuskan nafas panjang.
"Kenapa ibu dan ayah tak menghubungiku lagi?"
Prang!!!
Tepat setelah embun-embun itu kuusap, ada suatu benda yang sepertinya terjatuh.
"Oh, kotak make-up ku ..."
Aku pun langsung merapikannya lagi.
Tapi, mengapa kotak ini terjatuh padahal tak ada siapa pun yang menyentuhnya?
Ketika selesai merapikan kotak itu, aku menatap cermin. Lagi-lagi, bayangan lelaki itu terpampang jelas di cermin.
"Kau? Kau siapa?! Jangan menganggu hidupku! Pergi! Pergi!" pekikku keras, sambil melempari beberapa bantal ke cermin tersebut dan membuat sebagian dari cermin itu pecah.
"Hah? Hilang ..." Aku terkesiap. Untuk yang ketiga kalinya, lelaki itu muncul, lalu menghilang begitu saja.
Dadaku sesak. Keinginan ingin bertemu lelaki itu semakin memuncak. Tiba-tiba, handphone berbunyi kembali.
Kali ini siapa lagi? umpatku kesal.
Tapi, setelah memeriksa handphone, ternyata tak ada satu pun sms yang masuk. Ada apa ini? Bulu kudukku mulai berdiri secara perlahan, dan nafas menjadi tak beraturan.
Dengan cepat, aku langsung menutup seluruh jendela dan beranjak tidur tanpa memikirkan apa pun. Anggap saja yang terjadi barusan hanyalah angin lalu.
Malam harinya ...
Udara dingin mulai merasuki tubuhku. Hari telah gelap. Matahari tadi sore telah berganti dengan bulan setengah purnama, dan di temani oleh bintang-bintang kecil yang jumlahnya tak bisa di hitung itu.
"Sudah malam. Lebih baik aku makan malam saja dulu ..." pikirku sambil berjalan ke dapur, melihat masih adakah bahan yang bisa di masak.
Di dapur, hanya ada sebutir telur dan secanting beras yang tersisa.
"Ya sudahlah ..." Aku pun memasak keduanya agar bisa mengisi perutku malam ini.
Beberapa puluh menit kemudian, makanan sudah siap, lalu langsung memakan dengan lahap. Ketika ingin kembali tidur, kedua mataku tak bisa di tutup. Mungkin ini akibat dari tidur terlalu lama tadi. Terpaksa, aku harus duduk termenung di malam yang dingin ini.
"Hah ..."
Sudah setengah jam aku duduk termenung tanpa melakukan kegiatan apa pun, namun tak kunjung mengantuk. Apa yang harus kulakukan?
Kututup wajah dengan kedua tangan, tapi apa ini? Ada noda hitam di wajahku. Sepertinya, ini adalah bekas kecap asin yang ada di dapur tadi.
Aku menatap cermin, meraih tisu dan langsung merapikan wajah yang kusut ini. Ketika sedang memakai krim malam, lelaki misterius itu pun muncul lagi.
"Aku sudah tak percaya lagi. Siapa kau?" tanyaku pada lelaki yang kulihat di cermin itu. Namun sia-sia saja, lelaki itu tak menjawab.
Brukk!
"Siapa ka-" Mataku terasa berat, seperti ada seseorang yang memukul dari belakang.
****
"Ngg?" Aku menggerakkan jemari dengan perlahan, sepertinya ada seseorang yang sedang menggenggam jemariku.
"Hah? Kamu laki-laki yang tadi! Kenapa ada di sini?" tanyaku pada laki-laki itu. Ia hanya diam. Sesekali, ia melihat ke arahku, namun bibir tipisnya itu tak mengeluarkan sepatah kata pun.
Di luar, tetesan hujan mulai turun perlahan. Sepertinya, sekarang adalah musim hujan.
Aku memperhatikan rumah ini. Ini bukan rumahku!
"Ini di mana?" tanyaku lagi. Tetap saja, lelaki itu tak menjawab. Aku sungguh heran dengannya. Kenapa ia tak bicara sepatah kata pun?
Tak lama kemudian, kedua tangannya bergerak secara perlahan, lalu mengambil kertas dan pena yang kebetulan ada di sebelahnya. Dia menuliskan sesuatu. Setelah selesai menulis, ia memberikan kertas itu padaku.
"Ini rumah kosong yang selalu aku tinggali semenjak orang tuaku meninggal."
Hanya itu yang tertulis di kertas putih itu.
"Kenapa aku bisa ada di rumahmu?" tanyaku heran. Mendengar aku bertanya padanya lagi, lelaki itu menuliskan sesuatu lagi di kertas putihnya itu.
"Ceritanya panjang."
Lama-lama, aku mulai kesal pada lelaki itu.
"Hei! Kau kenapa sih?!"
Tanpa sadar, aku telah mendorongnya hingga ia terjatuh ke lantai.
"Ah, maaf!" kataku dengan perasaan bersalah. Lagi-lagi, ia menuliskan sesuatu di kertas putih itu.
"Aku tak bisa bicara."
Aku terkesiap. Sungguh! Aku sama sekali tak menyangka bahwa lelaki ini, lelaki yang ada di mimpiku kemarin ternyata bisu.
"Maafkan aku. Aku tak tahu ..." ucapku lirih. Ia hanya tersenyum lebar, lebar sekali. Kuartikan senyuman itu sebagai kata 'ya'.
"Bolehkah aku mengetahui namamu?" tanya lelaki itu melalui selembar kertas putih yang baru.
"Ya. Namaku Lya." Sengaja kukeraskan ucapanku agar ia bisa mendengar.
Setelah aku memperkenalkan diri, lelaki itu langsung menulis lagi.
"Namaku Yoga. Senang berkenalan denganmu. Aku membawamu ke mari karena kemarin kau ada di dalam mimpiku."
Mataku terbelalak. Ternyata, memang dialah lelaki yang ada di mimpiku kemarin.
"Akhirnya kita bertemu!" seruku sambil memeluknya dengan erat. Ia hanya tersenyum melihat tingkah lakuku yang mungkin menurutnya terlalu kekanak-kanakan ini.
Setelah melepaskan pelukanku, ia kembali menulis sesuatu di kertas. Dan kali ini, ia menulis lebih lama dari yang sebelumnya. Tapi, aku berusaha sabar menunggu sampai ia selesai menulis.
"Kemarin, aku bermimpi bahwa hari ini rumahmu akan di masuki seseorang yang tak mempunyai niat baik padamu. Dan ternyata benar, ketika aku ke rumahmu, kau sudah tergeletak di lantai dengan punggung yang bersimbah darah. Maafkan aku, pada saat datang ke rumahmu, ternyata rumahmu sudah acak-acakan dan aku tak sempat untuk membereskannya."
Setelah membaca surat darinya, air mataku menetes secara perlahan. Entah ini adalah air mata kegembiraan atau kesedihan.
"Terima kasih ..." ucapku lirih.
Ketika sedang menguncir rambut, handphone yang berada di saku celanaku berbunyi dengan nyaring. Ternyata, ada telepon dari ibu.
"Halo, Bu?" sapaku pada perempuan yang sangat berjasa dalam hidupku itu lewat telepon.
"Apa kabar, Lya? Ibu punya kabar gembira untukmu!" serunya.
"Apa itu?"
"Mulai malam ini, ibu akan tinggal di rumahmu lagi!" lanjut ibu.
Oh ya? Hore!" teriakku kegirangan. Senang rasanya bisa tinggal serumah dengan ibu lagi.
Sepuluh menit lebih aku dan ibu berbincang lewat telepon. Setelah mematikan handphone, aku kembali menguncir rambut. Tiba-tiba saja, lelaki itu memberikan kertas padaku.
"Kau akan kembali ke rumahmu? Dan aku akan tinggal sendirian di sini?"
Sempat terlintas di pikiranku untuk membiarkannya. Namun, hati ini tak tega meninggalkannya sendirian di sini. Aku pun memutuskan untuk pulang ke rumah bersama dengannya.
****
Ternyata, ibu telah menunggu di depan halaman.
"Ibu ...!" seruku pada perempuan setengah baya itu.
"Ibu rindu sekali sama kamu, Lya. Oh ya, itu siapa?" tanya ibu ketika ia melihat aku datang bersama Yoga.
Tanpa basa basi lagi, aku pun menceritakan semuanya.
"Ya. Kalau begitu, Yoga, kamu tinggal di sebelah rumah ini saja. Katanya sih, rumah ini di kontrakkan. Nanti biar ibu yang bayar," ucap ibu pada Yoga.
Yoga hanya tersenyum manis dan mengangguk pelan. Aku gemas melihat tingkahnya itu.
Seminggu kemudian ...
Hari ini, aku tak sekolah karena hujan lebat. Karena ibu sudah pergi kerja dari pagi, aku pun memutuskan untuk mengunjungi rumah Yoga yang letaknya bersebelahan dengan rumahku.
"Yoga ...!" Kuketuk pintu dengan perlahan. Tak lama kemudian, Yoga pun membuka pintu. Belum sempat menanyakan kabarnya, Yoga langsung menarik lenganku masuk ke dalam rumahnya.
Ia mempersilakanku duduk di sofa berwarna cokelat muda, lalu memberikan secarik kertas putih padaku. Sepertinya, ada sesuatu yang ingin ia bicarakan.
"Kau tahu? Semenjak aku memimpikanmu, aku langsung jatuh hati pada sosokmu, Lya. Aku ingin kau selalu menemani hari-hariku. Ya, aku tak memerlukan jawaban darimu. Aku hanya tak mau mengulur-ulur waktu lagi untuk mengutarakan perasaan ini."
Dadaku sesak, nafasku menjadi tak beraturan. Sebenarnya, aku juga menyukainya. Namun, apakah dia mau menerima sosok perempuan pemalu ini sebagai kekasihnya?
"I-iya. Aku mau. Asalkan kau juga mau menerima sosok perempuan pemalu ini apa adanya," ucapku pelan.
Yoga hanya mengangguk pelan, lalu ia memelukku dengan hangat. Rambut hitam lebatnya itu mengenai pipiku, membuatku semakin gugup.
Tak lama kemudian, ia melepaskan pelukannya. Lalu, memberikan secarik kertas lagi padaku.
"Kita sama, Lya. Kita sama-sama memimpikan seseorang yang kita cintai minggu lalu. Aku siap menerimamu apa adanya."
Aku terharu. Tak di sangka, lelaki misterius yang selalu muncul waktu itu sekarang berada di depanku dan ia benar-benar telah menjadi milikku!
Tapi, ada satu hal yang mengganggu pikiranku saat ini. Kenapa sosoknya waktu itu menghilang seketika ketika aku ingin menyapanya?
Ah, sudahlah. Lebih baik aku tanyakan padanya pada waktu yang lebih tepat.
Seminggu kemudian ...
Mungkin sekaranglah waktu yang tepat untuk menanyakan pada Yoga mengapa waktu itu sosoknya selalu muncul di depanku. Bukan hanya sekali, tapi beberapa kali.
"Yoga, bisakah kau berhenti mendengarkan musik? Aku ingin bicara sesuatu padamu. Dan ini penting," pintaku. Ia hanya mengangguk, mencopot earphone putihnya, dan tentu saja mengambil secarik kertas putih dan pena sebagai alat komunikasinya.
"Yog, waktu pertama kali kita bertemu, sebelumnya aku selalu melihat sosokmu beberapa kali. Pada saat hujan berhenti, di tempat les, bahkan di depan cermin. Dan lagi, siapa yang memukulku dari belakang waktu itu?" jelasku panjang lebar. Dengan cepat, Yoga langsung menulis sesuatu di kertas putihnya, lalu memberikannya padaku.
"Aku juga seperti itu. Tapi, aku tak terlalu menghiraukannya. Lupakan saja. Yang memukulmu waktu itu pencuri. Kau lupa mengunci rumah, makanya dia masuk dan memukulmu diam-diam," jawabnya enteng. Antara kesal dan lega, aku hanya mengangguk. Benar katanya, lebih baik kulupakan saja kejadian buruk waktu itu.
The End
PROFIL PENULIS:
Nampang: Rahmi
Kelas: 8
TTl: Palembang, 31 Juli 2001
Umur: 13
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar